Minggu, 06 Maret 2016

REKRUETMEN DAN SELEKSI MATA KULIAH MANAJEMEN SDM



PEMBAHASAN
REKRUETMEN DAN SELEKSI MATA KULIAH MANAJEMEN SDM
1.1  REKRUTMEN
Rekrutmen adalah proses mencari, menemukan dan menarik para pelamar yang kapabel untuk dipekerjakan dalam dan oleh suatu organisasi.[1]
Rekrutmen dapat didefinisikan sebagai sebuah proses mencari dan menarik (membujuk untuk melamar) pelamar yang memenuhi syarat untuk mengisi jabatan/posisi tertentu yang lowong, yang telah diidentifikasi dalam perencanaan sumber daya manusia.[2]
Rekrutmen menurut pemakalah adalah proses pengumpulan sumber daya manusia yang nantinya untuk mengisi posisi yang kosong dengan syarat dan ketentuan dari organisasi maupun instansi yang membutuhkan.
Proses rekrutmen dimulai pada waktu diambil langkah mencari pelamar dan berakhir ketika para pelamar mengajukan lamarannya. Perlu ditekankan bahwa kegiatan rekrutmen tidak bisa tidak harus didasarkan pada perencanaan sumber daya manusia karena dalam rencana tersebut telah ditetapkan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi oleh orang-orang yang ingin bekerja dalam organisasi yang bersangkutan.
Proses rekrutmen perlu dikaitkan dengan dua hal, yaitu:
a)      Para pencari tenaga kerja baru perlu mengaitkan identifikasi lowongan dengan informasi tentang analisis pekerjaa.
b)      Komentar para manajer yang kelak akan membawahi tenaga kerja baru itu harus diperhatikan, bahkan dipertimbangkan dengan matang.
Dengan mendasarkan pada rencana sumber daya manusia, preferensi para manajer, para pencari tenaga kerja akan memiliki gambaran yang lengkap tenteng tuntutan pekerjaan yang harus dipenuhi oleh tenaga kerja baru itu. Dengan demikian para pencari tenaga kerja akan dapat memahami dan menentukan secara tepat metode rekrutmen yang bagaimana yang akan digunakan. Jika para pencari tenaga kerja mampu memilih metode rekrutmen yang tepat, hasilnya adalah terjaringnya sekelompok pelamar yang dianggap paling memenuhi berbagai persyaratan untuk mengisi berbagai lowongan yang terdapat dalam organisasi.[3]
A.    Kendala dalam Rekrutmen
Berbagai penelitian dan pengalaman banyak orang dalam hal rekrutmen menunjukkan bahwa kendala yang biasa dihadapi itu dapat mengambil tiga bentuk, yaitu kendala yang bersumber dari organisasi yang bersangkutan itu sendiri, kebiasaan para pencari tenaga kerja sendiri dan faktor-faktor eksternal yang bersumber dari lingkungan dimana organisasi bergerak.
1.      Fakor-faktor Organisasi
Dapat dipastikan bahwa berbagai kebijaksanaan yang ditetapkan dan diberlakukan dalam suatu organisasi dimaksudkan agar organisasi yang bersangkutan semakin mampu mencapai berbagai tujuan dan sasarannya. Berikut ini akn dibahas beberapa kebijaksanaan yang mungkin menjadi kendala dalam proses rekrutmen.
Kebijaksanaan Promosi dari Dalam, jika dalam suatu organisasi dianut kebijaksanaan bahwa dalam hal terjadinya lowongan, lowongan itu diisi oleh para pekerja yang sudah menjadi karyawan organisasi, tentunya para pencari tenaga kerja tidak usah lagi berpaling ke sumber-sumber tenaga kerja diluar organisasi.
Kebijaksanaan Tentang Imbalan, setiap organisasi tentunya mempunyai kebijaksanaan tentang upah dan gaji yang diberikan kepada karyawannya sebagai imbalan atas waktu, tenaga, keahlian dan ketrampilan serta jasa-jasa lainnya yang mereka berikan kepada organiasasi. Akan tetapi perlu ditekankan bahwa yang dimaksud denagn sistem imbalan dalam pengelolaan sumber daya manusia tidak terbatas hanya pada upah dan gaji saja, akan tetapi mencangkup pula berbagai kompensasi materiel lainnya seperti berbagai bentuk tunjangan dan hak-hak.
Rencana Sumber Daya Manusia, suatu rencana sumber daya manusia biasanya memberi petunjuk tentang lowongan yang bagaimana sifatnya yang diisi melalui promosi dari dalam dan lowongan yang bagaimana yang akan diisi melalui rekrutmen tenaga kerja dari luar. Rencana demikian pun sudah barang tentu membatasi langkah dan tindakan yang mungkin ditempuh oleh para pencari tenaga kerja karena bagaimanapun juga apa yang telah ditetapkan dalam rencana harus dipatuhi.
2.      Kebiasaan Pencari Tenaga Kerja
Pada satuan kerja yang mengelola sumber daya manusia biasanya terdapat sekelompok pegawai yang tugas utamanya adalah melakukan rekrutmen. Mereka adalah tenaga spesialis yang memahami berbagai berbagai segi proses rekrutmen. Sebagai tenaga spesialis diharapkan bahwa mereka, yang sering pula dikenal sebagai pencari tenaga kerja itu, mampu bertindak dan berfikir rasional. Akan tetapi karena berbagai faktor , seperti latar belakang pendidikan dan pengalaman, para pencari tenaga kerja tersebut mungkin saja sudah mempunyai  kebiasaan-kebiasaan tertentu. Sebagaimana halnya dengan berbagai kebiasaan lain dalam kehidupan seseorang, ada segi positif dan ada pula segi negatifnya. Segi positifnya antara lain ialah bahwa proses rekrutmen dapat berlangsung dengan relatif cepat. Segi negatif dari kebiasaan, yang tentunya merupakan kendala dalam proses rekrutmen, ialah kecenderungan berbuat kesalahan yang sama terutama apabila kesalahan yang pernah dibuat tidak mempunyai dampak negatif kuat bagi organisasi, karena, misalnya, tenaga kerja yang direkrut mampu bekerja sesuai dengan tuntutan tugasnnya. Segi negatif lain adalah sikap pandang enteng terhadap tugasnya sehingga usaha rekrutmen dihentikan pabila telah ada lamaran yang masuk dan tidak lagi berusaha mencari alternatif lamaran sehingga yang benar-benar terbaiklah yang direkrut.[4]
3.      Kondisi Eksternal (Lingkungan)
Faktor-faktor eksernal harus selalu mendapat perhatian. Beberapa contoh dari faktor-faktor eksternal yang perlu diperhitungkan dalam proses rekrutmen adalah sebagai berikut:
1.      Tingkat pengangguran.
2.      Persaingan antar organisasi.
3.      Langka atau tidaknya keahlian atau ketrampilan tertentu.
4.      Proyeksi angkatan kerja pada umumnya
5.      Peraturan perundang-undangan dibidang ketenagakerjaan.
6.      Praktek rekrutmen oleh organisasi-organisasi lain.
7.      Tuntutan kerja oleh tenaga kerja baru.
Berbagai kendala yang mungkin dihadapi dalam merekrut tenaga kerja baru harus dipertimbangkan secara matang karena hanya dengan demikian waktu, tenaga dan biaya yang dikeluarkan sepadan dengan hasil yang dicapai, yaitu tersedianya tenaga kerja baru yang memenuhi berbagai persyaratan dan tuntutan tugas yang akan dilaksanakan.
B.     Prinsip-Prinsip Rekrutmen
1.      Mutu karyawan yang akan direkrut harus sesuai dengan kebutuhan perusahaan, sehingga sebelumnya perlu dilakukan:
a.       Analisis pekerjaan, yaitu pengumpulan, penilaian dan penyusunan informasi secara sistematis oleh job analyst mengenai tugas-tugas (duties), tanggung jawab (responsibility), kemampuan manusia (human ability) dan standar kinerja (performance standard) yang berkaitan dengan suatu pekerjaan dalam perusahaan.
b.      Deskripsi pekerjaan, merupakan produk utama dari analisis pekerjaan yang menyajikan ringkasan pekerjaan yang telah diidentifikasi secara tertulis.
2.      Jumlah karyawan yang dibutuhkan harus sesuai dengan jabatan yang tersedia, maka perlu dilakukan:
a.       Peramalan kebutuhan tenaga kerja
b.      Analisis terhadap kebutuhan tenaga kerja (work force analysis)
c.       Analisis Biaya-Manfaat cermat
d.      Perencanaan dan keputusan-keputusan strategis tentang perekrutan.
e.       Fleksibilitas
f.       Pertimbangan-pertimbangan hukum.

C.    Proses Rekrutmen.
Proses rekrutmen dimulai saat organisasi merasa butuh tambahan karyawan baru, yang diperoleh dan disesuaikan dengan strategi perekrutan, sampai pada proses akhir menghasilkan kumpulan pelamar. Lebih lengkapnya akan disajikan gambar bagan dibawah ini:


Strategi Rekrutmen
Kebutuhan karyawan
Surat permintaan karyawan baru
Rasio hasil
Analisa pekerjaan
Deskripsi pekerjaan
Spesifikasi pekerjaan
                                    

Perencanaan Rekrutmen
Berapa jumlah yang dibutuhkan
Kapan menarik calon pelamar
Bagaiman rekrutmen dilakukan
Kriteria spesifikasi pelamar
Tujuan yang harus dicapai
Posisi entry


Sumber-sumber Rekrutmen
Internal
Eksternal
Pengaruh pasar tenga kerja


Penyaringan

Menyisihkan yang tidak sesuai


Kumpulan Pelamar
Pemrosesan informasi
Pemberitahuan kepada pelamar



1.      Penyusunan strategi untuk merekrut. Rekrutmen yang akan dilakukan diselaraskan dengan strategi perushaan, serta rencana kegiatan diinginkan dan kebutuhan khusus yang ditentukan oleh perusahaan.
2.      Perencanaan rekrutmen. Proses ini bermula dari spesifikasi yang jelas dari kebutuhan karyawan (jumlah, kriteria keahlian, dan tingkat) dalam batasan waktu yang ditentukan.
3.      Sumber-sumber rekrutmen. Ada dua sumber utama yaitu internal dan eksternal.
4.      Penyaringan. Lamaran-lamaran yang masuk kemudian disaring untuk menyisihkan pelamar yang kurang pas dan mendapatkan kandidat yang benar-benar sesuai dan memenuhi syarat.
5.      Kumpulan pelamar. Akhirnya tersedialah beberapa calon karyawan baru yang siap untuk diajukan dalm proses seleksi.
D.    Sumber dan Metode yang digunakan dalam Proses Rekrutmen
Terdapat dua sumber utama rekrutmen yang dapat digunakan, yaitu:
Ø  Internal, berasal dari karyawan yang ada diperusahaan sekarang.
Ø  Eksternal, berasal dari luar perusahaan.
1.      Sumber Internal, dilakukan perusahaan melalui kebijakan dari dalam perusahaan berupa promosi, transfer, rotasi pekerjaan, dan pengkaryaan kembali karyawan.
Metode Internal dapat dilakukan dengan cara:
*      Job posting (penawaran terbuka untuk suatu jabatan tertentu). Job posting berperan dalam:
1.      Menyediakan kesempatan bagi pertumbuhan dan perkembangan karyawan.
2.      Menyediakan kesempatan yang sama bagi kemajuan setiap karyawan.
3.      Menciptakan keterbukaan yang lebih luas dalam perusahaan denagn mengumumkan kesempatan tersebut pada semua karyawan.
4.      Meningkatkan pengetahuan karyawan akan tingkat gaji, uraian tugas, promosi umum dan prosedur transfer, dan pa saja yang bisa mengefektifkan kinerja.
*      Persediaan/Daftar Ketrampilan (Skill Inventories), merupakan dat persediaan keahlian dan ketrampilan dari karyawan, yang berisi seluruh arsip dan informasi berkaitan dengan perkembangan dan meningkatnya potensi karyawan dalam melakukan pekerjaan.
*      Rekomendasi dari karyawan/referral (teman, anggota keluarga karyawan perusahaan lain). Karyawan merekomendasikan pencari kerja kepada departemen SDM. Karyawan didorong untuk membantu perusahaan mendapatkan kandidat ynag memenuhi kriteria dengan memberikan imbalan atau balas jasa lain.
2.      Sumber Eksternal, yaitu rekrutmen yang berasal dari luar perusahaan, terdiri atas:
a.       Karyawan yang mencari pekerjaan baru untuk pertama kali.
b.      Karyawan yang telah bekerja dan tidak puas terhadap perusahaan sebelumnya.
c.       Pembajakan karyawan (raiding), yaitu dengan merebut tenaga kerja dari perusahaan lain.
d.      Karyawan yang pernah bekerja dan sekarang sedang menganggur.
Metode Eksternal dapat dilakukan dengan cara:
F  Walk-in Applicant, sejumlah pelamar mendatangi langsung bagian rekrutmen diperusahaan untuk mencari kerja.
F  Write-in, berupa surat-surat lamaran yang dikirimkan langsung ke perusahaan.
F  Iklan (surat kabar, majalah, televisi, radio, dan media lain).
F  Agen-agen penempatan tenaga kerja, yaitu sebagai penyalur kebutuhan lowongan pekerjaan dan pencari kerja.
F  Lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan, yang menggunakan tenaga kerja khusus yang menghasilkan SDM yang berkualitas dan siap kerja.
F  Organisasi-organisasi keahlian/profesi.
F  Serikat Pekerja, biasanya serikat buruh memiliki data tentang daftar orang-orang yang memiliki ketrampulan-ketrampilan terentu yang diandalkan.
F  Perguruan Tinggi. Rekrutmen dari perguruan tinggi bergengsi merupakan langkah perusahaan dalam mempertahankan citranya di mata masyarakat.
F  Open house, merupakan model penarikan yang relatif baru, yaitu dengan cara mengundang orang disekitar perusahaan untuk mengunjungi dan melihat fasilitas-fasilitas perusahaan, memperoleh penjelasan dan bisa juga menonton film mengenai profil perusahaan.
F  Konsultan Manajemen, bahwa konsultan manajer lebih terspesialisasi dibandingkan penempatan swasta.
*      Kelebihan dan kelemahan Sumber Internal dan Eksternal. [5]
Kelebihan
Kelemahan
Promosi dari Sumber Internal
ü  Memberikan motivasi ang lebih besar untuk kinerja yang lebi baik.
ü  Memberikan kesempatan promosi yang lebih besar bagi karyawan yang ada sekarang.
ü  Meningkatkan moral kerja karyawan dan loyalitas organisasional.
ü  Memberikan kesempatan yang lebih baik untuk menilai kemamuan.
ü  Memungkinkan karyawan melaksanakan pekeerjaan dengan waktu yang lebih baik dan lebih singkat.
ü  Tidak terlalu mahal.
ü  Sudah biasa dengan kondisi perusahaan.
ü  Menciptakan pola pikir dan gagasan yang sempit.
ü  Menimbulkan perselisihan politis dan tekanan untuk bersaing.
ü  Membutuhkan program pengembangan manajemen yang lebih baik.
Pengangkatan dari Sumber Eksternal
ü  Memberikan ide dan pandangan baru.
ü  Memungkinkan karyawan untuk melakukan perubahan tanpa berkepentingan.
ü  Tidak banyak mengubah hierarki organisasional yang sekarang.
ü  Waktu yang hilang karena penyesuaian.
ü  Menghancurkan semangat karyawan yang ada untuk berjuang mendapat promosi.
ü  Tidak ada informasi yang tersedia mengenai kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi organisasi.

E.     Ukuran Keberhasilan Rekrutmen
Di antara ukuran keberhasilan rekrutmen dapat dilihat dari:
1.      Banyaknya pelamar yang datang dan melamar.
2.      Banyaknya pilihan-pilihan karyawan yang potensial.
3.      Banyaknya penempatan karyawan yang berhasil.[6]
F.     Alternatif-alternatif untuk Rekrutmen
Bahkan pada saat perencanaan tenaga kerja menunjukkan adanya kebutuhan tambahan atau penggantian karyawan, perusahaan mungkin memutuskan untuk tidak melakukan rekrutmen, karena berdasar pengeluaran biaya yang tinggi. Perusahaan dapat mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan rekrutmen dengan beberapa alternatif berikut ini:
a.       Lembur, penggunaan waktu lembur (overtime) dapat dilakukan saat menghadapi fluktasi dalam volume kerja.
b.      Karyawan temporer. Perusahaaan penyedia tenaga kerja temporer dapat membantu perusahaan dengan menangani kelebihan atau beban kerja khusus (special workloads).
c.       Pekerja-pekerja sewaan (employee leasing), yang biasanya digunakan untuk kebutuhan SDM jangka pendek dan sementara.
d.      Pekerjaan yang dikontrakkan (outsorching). Bahkan apabila perusahaan melakukan antisipasi terhadap peningkatan volume kerja, produk dan jasa jangka panjang, perusahaan masih memungkinkan menghindari rekrutmen dengan melakukan pekerjaan yang dikontrakkan pada pihak lain.[7]
G.    Formulir Lamaran
Setiap perusahaan atau organisasi memiliki formulir lamaran yang biasanya dirancang sendiri sehingga sesuai dengan kebutuhan organisasi atau perusahaan tersebut. Formulir lamaran itu dirancang sedemikian rupa sehingga:
a.       Berbagai informasi tentang pelamar terdapat didalamnya.
b.      Format informasi ynag diperoleh seragam yang pada gilirannya memudahkan pemrosesan selanjutnya.
Pada umumnya suatu formulir lamaran menggali informasi tentang delapan hal, yaitu:
Ø  Data pribadi
Permintaan kepada pelamar untuk memberikan  data selengkap mungkin mengenai dirinya.
Ø  Status pelamar
Yang dimaksud dengan status pelamar ialah apakah yang bersangkutan sekarang bekerja atau tidak.
Ø  Keahlian dan ketrampilan
Secara umum dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan seseorang dan pelatihan yang pernah diikutinya mencerminkan kemampuan intelektual dan jenis ketrampilan yang dimiliki oleh orang yang bersangkutan.
Ø  Riwayat pengalaman.
Hampir semua formulir lamaran mengandung pertanyaan yang menyangkut pengalaman pelamar yang bersangkutan. Bagi pencari tenaga kerja, jawaban terhadap berbagai pertanyaan pada bagian ini memberi petunjuk apakah pelamar adalah seseorang yang dapat diharapkan meniti karier diorganisasi yang bersangkutan ataukah senang pindah-pindah pekerjaan.
Ø  Latar belakang kemiliteran
Banyak organisasi yang memasukkan pertanyaan tentang latar belakang kemiliteran para pelamar, terutama bila lowongan yang tersedia menuntut sifat-sifat tertentu seperti loyalitas, disiplin pribadi yang tinggi, ketegasan dan sifat-sifat lain yang sejenis yang biasanya ditanamkan dalam latihan kemiliteran.
Ø  Kegemaran atau hobi.
Dewasa ini semakin disadari oleh banyak organisasi bahwa citra positif suatu organisasi tidak hanya terpelihara karena tindak tanduk serta perilaku para anggotanya dalam menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan langsung dengan kepentingan organisasi, akan tetapi juga dalam aktifitas mereka diluar kegiatan kedinasan. Oleh karena itu banyak organisasi yang berusaha menggali informasi tentang berbagai hal yang menyangkut diri pelamar meskipun berbagai informasi tersebut mungkin tidak terkait langsung dengan jabatan dan tugas formalnya dalam organisasi.
Ø  Referensi
Bagian terakhir suatu formulir adalah referensi.[8]



H.    Rekrutmen dalam Perspektif Syariah
          Islam mendorong umatnya untuk memilih calon pegawai berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan kemampuan teknis yang dimiliki. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah dalam QS.al-Qashas [28]:26
قالت احدا هما ياءبت استئجره ان خير من استئجرت القوي الامين
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “ Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya “.
          Amanah merupakan faktor penting untuk menentukan kepatutan dan kelayakan seorang calon pegawai. Hal ini bbisa diartikan dengan melaksanakan segala kewajiban sesuai dengan ketentuan Allah dan takut terhadap aturan-Nya. Selain itu, melaksanakan tugas yang dijalankan dengan sebaik mungkin sesuai dengan prosedurnya, tidak diwarnai dengan unsur nepotisme, tindak kedzaliman, penipuan, intimidasi atau kecenderungan terhadap golongan tertentu.
          Calon pegawai harus dipilih berdasarkan kepatutan dan kelayakan. Persoalan ini pernah diingatkan Rasulullah dalam sabdanya: “Barang siapa mempekerjakan orang karena ada unsur nepotisme, padahal disana terdapat orang yang ebih baik daripada orang tersebut, maka ia telah menghianati amanah yang diberikan Allah, Rasul-Nya dan kaum Muslimin”.
          Untuk menerapkan kaidah kepatutan dan kelayakan dalam pengangkatan pegawai, Rasulullah pernah menolak permintaan sahabat Abu Dzar  yang meminta dijadikan sebagai pegawai beliau, karena mempunyai kelemahan. Dalam hadist riwayat shahih Muslim (1825) dari Abu Dzar berkata: “Ya Rasulullah, mengapa Anda tidak mengangkatku menjadi pegawai?” Kemudian Abu Dzar berkata lagi: “Maka beliau menepukkan tangannya ke pundakku, kemudian berkata: “Wahai Abu Dzar! Sesungguhnya kamu itu lemah, sedang apa yang kamu minta itu adalah amanah, tidak lain hal itu hanyalah kehinaan dan penyesalan pada hari Kiamat, kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban didalamnya”.
Dari hadist tersebut dapat ditarik sebuah pelajaran, bahwa standar pengangkatan pegawai adalah kepatutan dan kelayakan seseorang untuk memikul tanggung jawab pekerjaan yang akan diwakilkan kepadanya. Sebagaiman nasihat Rasulullah kepada pamannya, bahwa jabatan bisa menjadi nikmat, tetapi bisa pula berubah menjadi adzab.[9]
1.2  SELEKSI
Seleksi adalah proses dengannya perusahaan dapat memilih dari sekelompok pelamarr yang paling memenuhi criteria seleksi untuk posisi yang tersedia berdasarkan kondisi yang ada saat ini. Proses dimulai ketika pelamar melamar kerja dan diakhiri dengan keputussan penerimaan  (Simamora, 1997:332) dan Rivai (2002:170)
Keputusan penerimaan akhir dilakukan  oleh departemen SDM sebagai hasil dari evaluasi terhadap kesesuaian potensi para pelamar yang ada dengan jabatan yang kosong melalui penggunaan prosedur-prosedur yang valid. Proses seleksi tersebut dalam praktiknya tergantung pada 3 masukan yang bermanfaat yaitu analisis pekerjaan , perencanaan SDM dan rekruetment. Dalam hal ini informasi analisis pekerjaan memberikan deskripsi peerjaan , spesifikasi pekerjaan dan standart kinerja yang dituntut oleh suatu pekerjaan. Perencanaan SDM mengidentifikasikan pekerjaan dengan cara yang logis dan efektif. Selanjutnya terbentuk suatu kumpulan pelamar yag kemudian akan diseleksi. Ketiga masukan itu akan membimbing proses seleksi dapat berlangsung dengan cara yang lebih efektif dan efisien dengan arah yang lebih jelas. [10]
1.      Pentingnya seleksi
Seleksi sumber daya manusia itu penting karena tiga sebab :
1.      Kinerja para manajer akan senantiasa tergantung sebagian pada kinerja bawahan -  bawahannya. Karyawan yang tidak  mempunyai kemampuan yang baik tidak akan dapat bekerja secara efektif, dan akan berperngaruh mengurangi kinerja manajernya. Dengan demikian, momentum untuk menghalau hal-hal tersebut adalah saat sebelum orang-orang tersebut masuk kedalam organisasi bikan setelahnya
2.      Penyaringan harus berjalan efektif  karena biaya yang dikeluarkan untuk proses rekrutmen adalah besar, sehingga harus dapat dipastikan bahwa orang yang terpilih untuk menduduki suatu jabatan adalah yang tepat dan sesuai. Biaya tersebut meliputi biaya wawancara, pengecekan referensi, dan perjalanan/relokasi
3.      Pelaksanaan seleksi akan menyebabkan implikasi-implikasi legal. Seleksi mensyaratkan adanya legislasi kesempatan kerja yang sama, harus berdasar pada ketentuan-ketentuan pemerintah, dan efektivitas prosedur seleksi akan selalu dievaluasi oleh pengadilan agar dapat dipastikan bahwa perusahaan tidak melakukan praktik yang diskriminatif
Selain itu kegiatan seleksi itu juga mempunyai arti sangat strategis bagi perusahaan , apabila dilaksanakan sesuai dengan prinsip - prinsip manajemen SDM secara wajar ,maka proses seleksi akan menghasilkan pilihan karyawan yang dapat  diharapkan kelak memberikan kontribusi yang positif dan baik. Oleh karena itu, perusahaan dapat menyusun system seleksi yang baik bagi para pelamar sehingga masing – masing akan mendapat kepuasan
2.      Sasaran – Sasaran Seleksi[11]
1.    Efisiensi . tujuan seleksi untuk mencari tambahan karyawan yang nantinya diharapkan dapat menghasilkan kinerja yang tinggi akan dapat diperoleh dengan menyelenggarakan proses seleksi yang ketat dan hati – hati.
2.    Ekuitas . aktivitas – aktivitas seleksi merupakan sinyal yang palingterliht dan paling penting tentang komitmen organisasi terhadap keadilan dan kepatuhan legal . Aktivitas tersebut merupakan kontak pertama para pelamar dengan organisasi dan disitulah nilai ekuitas perusahaan mulai tertanam
3.    Keakuratan . artinya kemampuan dari pross seleksi untuk secara tepat dapat memprediksi kinerja pelamar
4.    Keadilan . artinya memberikan jaminan bahwa setiap pelamar yang memenuhi persyaratan diberikan kesempatan yang sama didalam system seleksi . system seleksi berjalan adil bila :
a)      Didasarkan pada persyaratan yang dijalankan secara konsisten
b)     Menggunakan standart penerimaan yang sama untuk semua pelamar
c)      Menyaring pelamar berdasarkan pertimbangan yang hanya berkaitan dengan pekerjaan saja
5.    Keyakinan artinya taraf orang-orang yang terlibat dalam proses seleksi yakin akan manfaat yang diperoleh. Pewawancara dan pelamar kerja ’’meyakini’’ akan suatu system seleksi apabila:
·      Selama proses seleksi pelamar dan pewawancara menggunakan waktu dengan efektif dan baik
·      Setiap orang memperoleh manfaat dengan mengikuti proses seleksi terlepas dari keputusan penerimaan karyawan yang diambil
·      Citra perusahaan dan harga diri para pelamar tetap terjaga
3.      Kriteria – Kriteria Seleksi[12]
Biasanya dapat diringkas dalam beberapa kategori yaitu ; pendidikan, pengalaman kerja, kondisi fisik , dan karekteristik kepribadian.
·         Pendidikan formal. Perusahaan cenderung menetapkan syarat minimal pendidikan formal dan jenis pendidikan. Missal untuk jabatan akuntan, kriteria pendidikannya adalah sarjana akuntansi
·         Pengalaman / kinerja masa lalu. Perusahaan sering menganggap pengalaman sebagai indicator yang baik untuk mengukur kemampuan dan sikap yang terkait dengan pekerjaan
·         Karakteristik fisik .Pertimbangan fisik tidaklah mengacu pada tindakan yang diskriminatif dan legal, yaitu dengan membuktikan bahwa penampilan fisik berhubungan secara langsung dengan efektifitas kerja. Misal ketajaman penglihatan sebagai kriteria seorang pilot pesawat
·         Karakteristik kepribadian dan tipe kepribadian . Karakteristik kepribadian meliputi status perkawinan , jenis kelamin dan usia. Tipe kepribadian merujuk pada sikap yang dimiliki sesorang dalam berkomunikasi, bersosialisasi, bekerjasama, ketekunan terhadap tugas, kemandirian dan penyesuaian diri. Beberapa perusahaan lebih menyukai karyawan yang sudah berkeluarga, yang diharapkan akan menetap sehingga tinggkat perputaran karyawan akan menurun. Di lain pihak, ada yang memilih yang lajang untuk orientasi pelaksanaan tugas di luar daerah. Demikian juga tentang kepribadian, misalkan perusahaan menetapkan kepribadian yang ramah dan tegas untuk pekerjaan dibagian pemasaran dan custum service.
4.      Proses/Tahap-Tahap Seleksi[13]
Proses seleksi adalah langkah-langgah yang dilalui oleh para pelamar dari mengajukan lamaran sampai akhirnya memperoleh keputusan ditolak atau diterima sebagai karyawan baru.
Proses ini berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainya, tetapi pada umumnya minimal meliputi: evaluasi persyaratan (administrastif), tes, wawancara dan ujian fisik. Rivai (2002:172) menjelaskan tentang proses/tahap-tapap seleksi beserta instrumen yang dapat digunakan, terdiri atas:
·      Surat-surat rekomendasi.
·      Format (boring) lamaran.
·      Tes kemampuan.
·      Tes potensi akademik (TPA).
·      Tes kepribadian.
·      Tes psikologi.
·      Wawancara seleksi pendahuluan.
·      Wawancara.
·      Wawancara dengan supervisor.
·      Evaluasi medis kesehatan.
·      Assessment center.
·      Drug test.
·      Keputusan penerimaan.


5.      Langkah-Langkah Dalam Proses Seleksi.[14]
Proses seleksi terdiri dari paling sedikit delapan langkah yang dapat ditempuh. Perlu ditekankan bahwa tidak semua langkah tersebut ditempuh. Misalnya, dalam hal orang dalam yang diseleksi dalam rangka alih tugas atau promosi, ada langkah-langkah tertentu yang tidak perlu lagi ditempuh karena organisasi, khususnya satuan kerja yang mengelola sumber daya manusia sudah memiliki informasi yang diperoleh degan mengambil langkah-langkah tertentu itu, misalnya informasi tentang kondisi kesehatan pegawai yang bersangkutan.
Langkah-langkah yang biasanya ditempuh dalam proses seleksi ialah:
a.       Penerimaan surat lamaran
b.      Penyelenggaraan ujian
c.       Wawancara seleksi
d.      Pengecekan latar belakang pelamar dan surat-surat referensinya
e.       Evaluasi kesehatan
f.       Wawancara oleh manajer yang kan menjadi atasan langsungnya
g.      Pengenalan pekerjaan
h.      Keputusan atas lamaran
Masing-masing langkah tersebut akan dibahas secara singkat berikut ini.
a.       Penerimaan surat lamaran.
Langkah pertama merupakan langkah yang penting. Oleh karena itu kedua belah pihak perlu menempuhnya dengan hati-hati. Organisasi pemakai tenaga kerja menempuh langkah ini guna memperoleh kesan pertama tentang pelamar melalui pengamatan tentang penampilan, sikap dan faktor-faktor lain yang dipandang relevan. Dari kesan pertama inilah perekrut mengambil keputusan apakah akan melanjutkan langkah berikutnya atau tidak. Sebaliknya dengan kunjungan pertamanya ke organisasi, pelamar dapat memutuskan apakah ia akan melanjutkan keinginannya untuk berkarya di organisasi tersebut atau tidak. Tentunya suatu titik temu akan diperoleh apabila kedua belah pihak mempunyai kesan positif tentang satu sama lain. Jika demikian halnya, perekrut akan mengambil langkah berikutnya.

b.      Penyelenggaraan ujian
Berbagai ujian diselenggarakan dan dimaksudkan untuk memperoleh informasi obyektif dan dengan tingkat akurasi yang tinggi tentang cocok tidaknya pelamar dengan jabatan atau pekerjaan yang akan dipercayakan kepadanya.
Pada dasarnya terdapat tiga jenis tes yang ditempuh oleh para pelamar, yaitu:
a.       Tes psikologi
b.      Tes yang menguji pengetahuan pelamar
c.      Tes pelaksanaan pekerjaan
Betapapun pentingnya berbagai tes diatas diselenggarakan, kiranya tidak boleh dilupakan bahwa penggunaannya hanya sebagai alat untuk memperoleh informasi secara lebih obyektif mengenai pelamar. Agar berbagai tes diatas benar-benar memberikan informasi yang ingin digali dari pelamar, dua persaratan harus dipenuhi, yaitu validitas dan dapat dipercayai. Yang dimaksud dengan validitas adalah bahwa nilai yang didapat oleh seseorang terkait dengan pelaksanaan pekerjaan atau dengan berbagai kriteria obyektif lainnya yang telah ditentukan sebelumnya.
Selanjutnya yang dimaksud dengan tes yang dapat dipercayai ialah bahwa hasil yang diperoleh konsisten setiap kali tes tersebut diambilnya. Jika sebaliknya yang terjadi, misalnya hasil tes bervariasi setiap kali diambil oleh orang yang sama, berarti bahwa tes tersebut tidak dapat dipercayai. Penting untuk mencatat bahwa tes yang tidak dapat dipercayai biasanya juga tidak valid dan karenanya sebaiknya tidak digunakan karena tidak membantu perekrut melakukan seleksi dengan sebaik-baiknya.
c.Wawancara
wawancara sebagai alat seleksi sering dipandang sebagai langkah yang cukup penting. Karena dipandang sebagai langkah yang penting, penggunaannyapun paling sering dan paling meluas. Wawancara sebagai alat seleksi merupakan pembicaraan formal antara perekrut dengan pelamar. Jika dilaksanakan dengan baik, lima manfaat yang dapat dipetik dari wawancara ialah:
1.      Kesan kuat tentang akseptabilitas pelamar untuk bekerja dalam organisasi,
2.      Perolehan jawaban yang agak pasti atas pertanyaan apakah pelamar mampu melaksanakan pekerjaan yang akan dipercayakan kepadanya;
3.      Perolehan bahan perbandingan antar pelamar yang diwawancarai dengan para pelamar lain untuk pekerjaan yang sama;
4.      Pengenalan pelamar dengan lebih baik oleh pewawancara;
5.      Kesempatan bagi pelamar yang diwawancarai untuk lebih mengenal organisasi yang akan memperkerjakannya melalui informasi yang diperolehnya dari wawancara;
Tipe-tipe wawancara. Pada dasarnya wawancara diselenggarakan dalam bentuk tatap muka antara seorang pewawancara dengan seorang pelamar. Meskipun demikian tidak tertutup kemungkinan menyelenggarakan wawancara perkelompok, artinya seorang atau beberapa pewawancara menngadakan dialog dengan sekelompok pelamar.
E Dewasa ini dikenal paling sedikit lima jenis wawancara, yaitu:
a.       Wawancara tidak setruktur,
b.      Wawancara tersetruktur,
c.       Gabungan antara tidak setrektur dan tersetruktur,
d.      Pemecahan masalah, dan
e.       Wawancara dalam situasi stres
Wawancara tidak terstruktur. Dalam menyekenggarakan wawancara tidak terstruktur, pewawancara tidak mempersiapkan sejumlah pertanyaan sebelumnya. Jumlah dan jenis pertanyaan yang diajukan kepada pelamar biasanya berkembang sambil wawancara berlangsung. Meskipun demikian tidak berarti bahwa pewawancara tidak perlu melakukan persiapan. Bahkan sesungguhnya teknik wawancara tidak tersetruktur menuntut ketrampilan improfisasi yang tinggi sehingga informasi kunci – dalam arti penting dan relefan – mengenai diri pelamar benar-benar diperoleh. Ketrampilan demikian menjadi lebih penting dimiliki pewawancara apabila diingat bahwa wawancara tidak terstrktur digunakan untuk membantu melamar mengatasi masalah-masalah pribadi yang mungkin dialaminya – misalnya mudah gugup, pemali dan sebagainya – atau membantu pelamar untuk memahami bahwa dia kurang tepat atau kurang cocok untuk pekerjaan yang dilamarnya.
Wawancara terstruktur. Tipe wawancara ini digunakan apabila pertimbangan validitas informasi yang dicari dianggap penting dan apabila jumlah pelamar yang hendak diwawancarai besar. Pelaksanaannya menuntut agar pewawancara menyusun dan mempersiapkan serangkaian pertanyaan yang ditanyakan pada semua pelamar. Kelemahan utama penggunaan teknik ini terletak pada dua hal, yaitu:
a.       Pelaksanaanya cenderung terlalu formal dan mekanikal,
b.      Tidak/kurang tersedianya kesempatan bagi pewawancara untuk melakukan improfisasi yang mungkin diperlukan seperti dalam hal pelamar memberikan jawaban menarik yang sebenarnya memerlukan “penggalian” lebih lanjud.
Gabungan antara tidak tersetruktur dan tersetruktur. Kenyataan dan pengalaman banyak orang menunjukkan bahwa wawancara yang paling sering digunakan sebagai teknik seleksi adalah teknik gabungan antara wawancara tidak setruktur dan wawancara tersetruktur. Alasannya ialah,bahwa penggabungan kedua teknik tersebut mengambil manfaat dari keduanya. Dengan perkataan lain, karena wawancara tersetruktur memungkinkan perolehan informasi yang dapat digunakan untuk membandingkan kualifikasi seorang pelamar dengan para pelamar lainnya dilengkapi dengan perolehan informasi secara lebih mendalam melalui wawancara tidak tersetruktur.
Pemecahan masalah. Untuk mengukur kemampuan pelamar menyelesaikan masalah tertentu, pada pelamar disodorkan suatu situasi problematik yang tentu saja sifatnya hipotetikal. Setelah wawancara menyampaikan permasalahan, pelamar diminta tanggapan tentang apa yang akan dilakukannya mengatasi situai tersebut. Agar informasi yang diperoleh berbobot, tiga hal yang biasanya mendapat perhatian pewawancara, yaitu:
a.       Jalan keluar yang dikemukakan pelamar,
b.      Pendekatan yang digunakannya,
c.       Sampai sejauhmana pelamar dapat berfikir tenang dan rasional dalam hal menghadapi tekanan, betapapun kuat atau lemahnya tekanan tersebut.
Wawancara dalam situasi setres. Dalam berbagai organisasi ada tugas-tugas tertentu yang sering berakibat pada stres dalam diri pegawai yang bertanggung jawab untuk melaksanakannya. Misalnya pegawai yang bekerja pada perusahaan jasa. Tidak mustahil pelanggan atau nasabah merasa tidak puas atas pelayanan yang diterimanya. Artinya mungkin saja pelanggan atau nasabah merasa pelayana terlalu lambat, kurang cermat, kurang ramah dan lain sebagainya. Sangat mungkin bahwa pelanggan atau nasabah yang tidak puas itu menyampaikan keluhannya dengan imosional. Dalam hal seperti itu keluan harus diatasi dan diselesaikan demi citra positif organisasi. Dalam usaha menyelesaikan situasi demikianlah biasanya timbul stres.
Dari penjelasan diatas terlihat bahwa dalam penggunaan teknik wawancara ini pewawancara mengajukan berbagai pertanyaan yang menjengkelkan kepada pelamar. Dari cara dan sikap menjawabnya, pelamar akan membuktikan kemampuannya menghadapi stres dalam melaksanakan tugasnya kelak.
d.      Surat-Surat Referensi
Salah satu langkah yang bisa diambil dalam keseluruhan proses seleksi ialah mengharuskan pelamar melengkapi dokumen lamarannya dengan surat-surat referensi. Surat-surat referensi dimaksudkan untuk melengkapi informasi tentang diri pelamar seperti kemampuan intelektual, sikap, nilai yang dianut, perilaku dan hal-hallain yang dipandang relefan.
Karena itu yang diminta memberikan surat referensi antara lain adalah atasan langsung, mantan guru atau dosen, sahabat keluarga, dan pihak-pihak lain yang karena mengenal pelamar dengan baik dianggap kompeten memberikan berbagai informasi yang diperlukan. Meskipun praktek meminta surat referensi tersebut sudah lama berlangsung. Kecenderungan dewasa ini ialah mengganti cara tersebut dengan cara yang lain. Salah satu alasan utamanya ialah karena menurut pengalaman banyak organisasi, surat-surat referensi itu biasanya hanya menonjolkan segi-segi positif mengenai diri pelamar. Artinya, segi-segi negatif mengenai diri pelamar sering tidak terungkap karena apabila diungkapkan  justru akan memperkecil kemungkinan lamaran diterima. Padahal untuk kepentingan penempatan dan pengembangan yang bersangkutan kelak informasi tentang kelemahan seseorang perlu pula diketahui oleh perekrut.
e.       Evaluasi medis
Praktek lain yang sangat lumrah yang dilakukan adalah melakukan evaluasi medis yang pada dasarnya dimaksudkan untuk menjamin bahwa pelamar berada dalam kondisi fisik yang sehat. Dua cara umum ditempuh dalam proses ini. Pertama pelamar diminta melampirkan surat keterangan dari dokter. Tetapi karena surat keterangan demikian bersifat umum, adakalanya organisasi menempuh cara kedua, yaitu melakukan sendiri evaluasi medis dengan mengharuskan pelamar menjalani tes kesehatan menyeluruh ditempat pemeriksaan oleh dokter yang ditunjuk oleh organisasi.

Berbagai tujuan yang ingin dicapai dengan efaluasi medis seperti ini, antara lain:
a.       Menjamin bahwa pelamar tidak menderita sesuatu penyakit kronis, apalagi menular,
b.      Memperoleh informasi apakah secara fisik pelamar mampu menghadapi tantangan dan tekanan tugas pekerjaannya,
c.      Memperoleh gambaran tentang tinggi rendahnya premi asuransi yang harus dibayar, terutama dalam hal organisasilah yang membayar premi tersebut bagi para karyawannya, suatu praktek yang terdapat dalam banya organusasi pemakai tenaga kerja.
f.       Wawancara dengan penyelia.
Dalam menejemen sumber daya manusia dewasa ini semakin dirasakan pentingnya keterlibatan para penyelia yang akan menjadi atasan langsung pelamar dalam proses seleksi. Bahkan dalam banyak organisasi kecenderungan kuat dewasa ini adalah memberikan wewenang dan kata terakhir kepada para penyelia untuk memutuskan siapa diantara para pelamar yang diterima dan siapa yang ditolak. Berbagai pertimbangan atau alasan mengapa kecenderungan ini timbul pesat antara lain ialah:
g.      Keputusan seleksi
Langkah terakhir dalam proses seleksi ialah pengambilan keputusan tentang lamaran yang masuk. Siapapun yang pada akhirnya mengambil keputusan atas lamaran yang diterima, apakah diterima atau ditolak, yang jelas ialah bahwa dua hal yang penting mendapat perhatian. Pertama, merupakan tindakan yang sangat etis sekaligus merupakan langkah penting dalam menjaga citra positif suatu organisasi apabila para pelamar yang lamarannya tidak diterima segera diberitahu tentang penolakan tersebut. Penekanan ini sangat penting karena praktek yang lumrah terjadi ialah bahwa yang diberitahukan terlebih dahulu, berupa panggilan, adalah mereka yang lamarannya diterima. Padahal mereka yang lamarannya ditolaklah yang seyogyanya diberitau terlebih dahulu. Dengan demikian mereka dapat mengambil langkah-langlah baru, misalnya dengan melamar ke tempat pekerjaan lain. Tindakan seperti ini dikatakan tepat dan etis karena dengan demikian organisasi menunjukkan kepeduliannya terhadap nasib orang-orang pencari pekerjaan. Sikap demikian sekaligus menjadi alat hubungan masyarakat yang efektif bagi organisasi yang bersangkutan. Kedua,seluruh dokumen pelamar dari para pelamar yang diterima untuk bekerja perlu disimpan dengan baik dan rapi karena berbagai informasi yang terkandung dalam dokumen tersebut akan sangat bermanfaat dikemudian hari dalam membina dan mengarahkan karier pegawai yang bersangkutan. Patut diingat bahwa bukti terbaik berlangsungnya proses seleksi dengan tepat adalah para karyawan yang mampu bekerja secara produktif, memiliki loyalitas tinggi dan berprilaku positif. Berarti informasi yang terdapat dalam dokumen lamaran itu akan sangat bermanfaat untuk diteliti kembali dikemudian hari dalam hal pekerja tidak memenuhi harapan karena dari penelusuran itu sangat mungkin ditemukan titik lemah dari proses seleksi yang telah ditempuh maksudnya ialah agar titik lemah tersebut diatasi dalam melakukan seleksi pegawai baru diwaktu-waktu yang akan datang.
6.      Mekanisme Pengambilan Keputusan Penerimaan.[15]
Pada dasarnya manajer SDM dalam memutuskan pelamar mana yang diterima harus mengumpulkan berbagai jenis infomasi yang berasal dari hasil seluruh tes dalam tahap-tahap seleksi seuruh pelamar. Metode yang dapat digunakan dalam mengkombinasikan informasi dan membuat keputusan penerimaan terdiri dari :
a.       Model-Model Aditif/kompensatori, merupakan pendekatan statistikal murni untuk pengambilan keputusan dengan mengkonversikan skor-skor tes yang diperoleh pelamar ke beberapa angka biasa, kemudian setelah itu menambahkannya.
Misalnya : kinerja = 2(kemampuan mekanisme) + 3(pengalaman) + 1(wawancara)
Nama
Kemampuan Mekanisme
Pengalaman
Wawancara
fernando
20
5 tahun
9
Vivindo  
5
15 tahun
7
Yolanda
25
4 tahun
5
Skor Fernando adalah 2(20)+3(5)+1(9)= 64. Skor Vivindo dan Yolanda adalah 62 dan 67. Sehingga yang dipilih adalah Yolanda karena skornya tertinggi.
Model Kompensatori artinya bahwa skor tinggi pada satu karakteristik dapat menutupi skor rendah pada karakteistik lainnya.
b.      Pisah Batas Ganda, pada metode ini pelamar disyaratkan mempunyai tingkat minimal dari setiap kriteria. Pisah batas ganda adalah model kompensatori dan seleksi. Misalnya, Ferrnando, Vivindo, dan yolanda menggunakan prosedur psah batas ganda dengan setiap kriterianya ditetapkan tingkat minimal untuk kemampuan mekanis adalah 15, disyaratkan 5 tahun pengalaman dan nilai wawancara 5. Dengan menggunakan ancangan ini Fernando lah yang diangkat, bukan Yolanda.karena Yolanda tidak memenuhi standar minimal pengalaman.
c.       Rintangan Ganda, merupakan pendekatan pisah batas ganda yang berurutan, yaitu pelamar melalui beberapa tahap tes ( pada setiap tes diadakan penyaringan). Misalnya, Fernando, Vivindo, dan Yolanda diasumsikan ketiganya mengisi formulir borang lamaran dan menjelaskan lama pengalaman. Ini merupakan rintangan pertama yang berarti Yolanda tidak daat melanjutkan proses berikutnya, tinggal Fernando dan Vivindo. Kemudian dalam tes mekanis Fernando berhasil memenuhi tingkat minimal, Vivindo tidak, maka dipilihlah Fernando.
d.      Pencocokan Profil, dalam pencocokan profil, kelompok pelamar yang baik dan buruk diidentifikasi. Misalnya, karyawan yang ideal memiliki kecerdasan rata-rata, keahlian sosial yang baik, mempunyai kebutuhan rendah mendominasi orang lain, dan tingkat kemampuan perencanaan yang tinggi. Pelamar kerja yang diangkat adalah yang paling mendekati profil ideal karyawan yang berhasil.
7.      Jenis-jenis Seleksi
•       Seleksi Administrasi
•       Seleksi secara Tertulis
•       Seleksi tidak tertulis
*      Seleksi Administrasi,
yaitu seleksi berupa surat-surat yang dimiliki pelamar, sesuai persyaratan atau tidak
•         Ijazah
•         Daftar riwayat Hidup
•         Domisili/keberadaan status yang bersangkutan
•         Surat lamaran
•         Sertifikat keahlian
•         Pas foto
•         Copy identitas
•         Pengalaman Kerja
•         Umur
•         Jenis Kelamin
•         Status perkawinan
•         Surat keterangan sehat
•         Akte kelahiran
*      Seleksi Tertulis
•       Tes kecerdasan
•       Tes kepribadian
•       Tes Bakat
•       Tes minat
•       Tes Prestasi
*      Seleksi tidak tertulis
•       Wawancara
•       Praktek
•       Kesehatan/Medis
8.      Seleksi dalam Perspektif Syariah.[16]
a.       Ujian Cakon Pegawai.
          Sinn (2006:108) menjelaskan bahwa memberika ujian seleksi kepada calon pagawai adalah persoalan pokok dalam Islam. hal tersebut setidaknya dicerminkan dari Rasulullah SAW ketika akan mengangkat Muadz bin Jabal sebagai pejabat kehakiman.
b.      Pilihan merupakan hasil seleksi kolektif.
Setelah dilakukan tahapan seleksi pegawai melalui beberapa ujian. Khalifah Umar r,a selalu bermusyawarah dan meminta pendapat dari sahabat, ketika akan menentukan pilihan calon pegawai yang akan mengemban tanggung jawab besar. Bahkan terkadang khalifah memberikan kebebasan dan tanggung jawab pemilihan pegawai kepada para sahabat setelah memberikan penjelasan tentang karakter pegawai yang diinginkan.


[1] Sondang P. Siagian, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta, PT Bumi Aksara: Cet.20 2012) hlm. 102
[2] Meldona, Manajemen Sumber Daya Manusia Perspektif Integratif, (Malang, UIN-Malang Press: 2009) hlm.132
[3] Sondang P. Siagian, Manajemen Sumber Daya Manusia.... hlm. 103
[4] Sondang P. Siagian, Manajemen Sumber Daya Manusia, hlm.108
[5] Meldona, Manajemen Sumber Daya Manusia perspektif Integratif....hlm.148
[6] Meldona, Manajemen Sumber Daya Manusia Perspektif Integratif, hlm.150
[7] Ibid... hlm.152
[8] Sondang P. Siagian, Sumber Daya Manusia... hlm.129
[9] Meldona, Manajemen Sumber Daya Manusia Perspektif Integratif.. hlm.155
[10] Meldona, Manajemen Sumber Daya Manusia Perspektif Integratif,.... hlm. 158
[11] Ibid....hlm.159
[12] Ibid...hlm.160
[13] Ibid....hlm.162
[14] Sondang P. Siagian, Manajemen Sumber Daya Manusia, hlm....136-151
[15] Meldona, Manajemen SDM.....hlm.186-188
[16] Meldona, Sumber Daya Manusia Perspektf Integratif....hlm.189

Tidak ada komentar:

Posting Komentar